IN MEMORIAM PROF. DJAS PAKCIK (INCEK) 4

 Sungai Asahan
Kisah Cinta Nenek Moyangku [Bag. 3]


--- Betapa terkejutnya Lobe Jantan melihat di sekeliling pinggang si Jotam, terdapat tangkal-tangkal atau ajimat. Lobe Jantan menjelaskan dengan hati-hati bahwa tangkal-tangkal itu akan menjerumuskan seorang Muslim menjadi musyrik sebagai dosa besar dalam Islam. Penjelasan Lobe Jantan dapat diterima oleh Jotam, bahkan diapresiasinya sangat radikal dan ekstrim. Jotam membuang semua jimatnya ke dalam jamban (WC) sebagai sikap batin, bahwa tangkal-tangkal itu, hanya pantas dimasukkan ke dalam WC. Tetapi apa lacur? Jotam kemudian gelisah, mengapa dia kejam benar; dan tega membuang pemberian ayah yang dicintai ke tempat yang kotor. Ya ... penyesalan selalu datang terlambat.

--- Pada malam harinya dia bermimpi, ayahnya menangis melihat perbuatannya itu. Dia ingat betul ketika ayahnya melilitkan tangkal itu ke pinggangnya sambil mencium ubun-ubunnya. Tetapi apa balasan Jotam? Dia membuang perlambang kasih sayang ayahnya ke dalam WC. Padahal waktu itu ayahnya belum tahu apa artinya kemusyrikan. Penyesalan ini berpengaruh bagi fisik dan mental Jotam dalam waktu yang panjang. Beberapa kali sampannya menabrak tebing dan rakit bambu kemudian hanyut ke hilir. Untung sajalah ada nelayan lain yang menolongnya. Pernah terjatuh dari pohon aren ketika mengambil nira. Lebih dari itu, dia selalu duduk termenung sambil menitiskan air mata. Orang-orang sekelilingnya menganggap Jotam sudah "tenggong" [setengah gila].
--- Lobe Jantan mengetahui betul asal muasal depresi mental yang dialami Jotam. Dia merasa bertanggung jawab atas musibah yang menimpa Jotam. Secara perlahan, Lobe Jantan mengajarkan kedahsyatan ayat al-Kursiy. Jotam mesti menghafalnya dan merenungkan isi kandungannya. Di dalamnya dinyatakan bahwa tidak ada yang terjadi di dunia dan akhirat kecuali atas izin dan restu Allah swt. 
--- Terjemah lengkapnya adalah "Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Kekal lagi terus menerus mengurus makhlukNya, tidak mengantuk dan tidak tidur. KepunyaanNya apa yang di langit dan di bumi. Tak satu pun yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izinNya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang meraka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi (keperkasaan dan kekuasaan) Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar". (Qs: Al-Baqarah : 255). 
--- Hal terpenting yang ditekankan Lobe Jantan, bukan wiridnya saja, tetapi mesti menghayati isi kandungannya. Alhamdulillah, berkat penghayatan Jotam atas kandungan Ayat al-Kursiy itu, dia pun berangsur sembuh, sudah bisa bekerja, meskipun belum maksimal.
--- Selain itu, Lobe Jantan menciptakan suasana yang betul-betul menggembirakan. Kadang mereka membuat mainan perahu dari pelepah pisang dan menghanyutkannya di Sungai. Mereka berdua menontonnya. Perahu mainan itu ada yang langsung terbalik di pusaran air, ada yang berputar-putar di tengah, dan ada yang hilang dalam pandangan mata, hanyut dibawa arus. Sambil tertawa gembira, Lobe Jantan menjelaskan, bahwa perahu itu menjadi terbalik, tentulah atas izin Tuhan, dan yang terus hanyut juga atas izin Tuhan. Banyak lagi kegembiraan yang dikreasi Lobe Jantan dengan memanfaatkan energi Sungai Asahan yang membuat Jotam berada dalam suasana menyenangkan dan melupakan penyesalannya, di samping munculnya kesadaran baru; bahwa tak ada yang luput dari kemahakuasaan Allah swt. Akhirnya secara berangsur tapi pasti, Jotam menjadi sembuh dan kemudian menjadi normal seperti sedia kala.
--- Suatu hari terjadi banjir besar. Sungai Asahan meluap, dan Pisang Binaya bagaikan pelabuhan mati yang tak berpenghuni, Tak seorang pun yang berani turun ke sungai. Jotam yang sedang santai duduk di serambi rumahnya, melihat dengan jelas ada sampan yang terombang ambing, diawaki seorang lelaki setengah tua. Di atas sampan itu juga ada seorang perempuan muda yang terbaring lemah keletihan. Jotam segera menghambur ke tepian Sungai untuk menolongnya. Alhamdulillah, dia berhasil menyelamatkan sampan yang hampir tenggelam itu.
---Jotam membawa mereka ke gubuknya. Ketika akan menghidangkan minum pada keduanya, Jotam terkesima melihat gadis itu. Mengapa? Kulitnya agak putih, matanya sedikit sipit, persis seperti anak-anak saudara ibunya. Sebaliknya, gadis itu pun tertegun, karena lelaki tampan di hadapannya persis juga dengan lelaki china, hanya kulitnya terlihat agak hitam bekas sengatan matahari. Setelah berbincang, mereka saling mengetahui bahwa ibu mereka adalah perempuan china. Benarlah kata pepatah, "Asma dan Asmara tak bisa disembunyikan" Ya ... benih-benih cinta bisa muncul dalam sekejap.
--- Berulang-ulang Jotam berdiri di pinggiran sungai, menunggu gadis bermarga Marpaung dan beribukan china melintasi sungai Asahan. Mereka hanya saling melambaikan tangan, tanpa ucapan "I Love You" dan kalimat yang sejenisnya. Hanya deburan hati masing-masing lebih dahsyat dari deburan air Sungai Asahan. Menggelora dan saling kejar-kejaran tanpa pernah berhenti.
--- Singkat kisah, setelah gadis itu masuk melayu*) beserta keluarga batihnya, mereka pun menikah, dan dikarunia seorang anak lelaki yang bernama Abdul Rahman [Kakek Kandungku] dan beberapa anak perempuan yang menikah dengan keluarga yang bermarga Simargolang. 
--- Berbeda dengan ayah dan ompung-ompungnya. Abdul Rahman membangun Rumah di Tangkahan Jambur, meninggalkan pinggiran Sungai Asahan. Keturunan Abdul Rahman ada tiga orang, Anak pertama diberi nama Abdul Muthalib yang dikenal dengan panggilan Kuong Tholib, beliaulah ayahku. Anak kedua Siti Saleha; dan anak terakhir ialah Abdul Wahab. Anak kedua dan ketiga akhirnya pindah ke Gang Yahya Kampung Durian masing-masing tahun 1953 dan 1958. Hanya ayahku yang bertahan di Kampung. 
--- Pada tanggal 14 Pebruari 1982, peresmian pernikahanku dengan Rosnita M. Noer di Desa Teuk Dalam, beberapa keluarga bermata sipit sengaja datang. Lihat kembali Postinganku tanggal 11-08-2016. 
Kuakhiri saja Kisah Cinta Nenek Moyangku sampai di sini. Wallhu'alam. (Djas)
-------
*)Di daerah Asahan dan di daerah melayu lainnya, ada istilah "masuk melayu" sebagai kata lain dari "masuk Islam", karena orang melayu identik dengan Islam.

 

Djas (Status FB 09-11-2017





Artikel ini diambil dari tulisan didinding Facebook Djas Pakcik, dan dibuat untuk mengenang Almarhum Prof. Dr. H. Dja'far Siddik, M.A. Semoga Allah Swt menempatkan Almarhum ditempat terbaik disisi-Nya

Posting Komentar

0 Komentar